Saturday, June 25, 2016

Berbagi Rezeki

Setelah hiatus lama, akhirnya iseng nulis lagi. Ini juga nulisnya di HP, untung biasa stalking jadi ngga terlalu peghel. 👍🏻

Beberapa waktu lalu sempet baca artikel di FB (sekarang ngga bisa nemu link-nya lagi nih), tentang trend ngundang anak yatim ke pesta ulang tahun, pesta perusahaan, syukuran dan sebagainya. Apa ada yang salah dengan itu? Tentu ngga ada, bagus banget malah. Toh anjuran di agama adalah agar kita selalu mengasihi dan menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.

Sempat disinggung penulis artikel tersebut, yang membuat dia terusik adalah kenapa ketika kita mengundang anak yatim ke sebuah pesta atau acara, makanan mereka dibedakan. Si empunya acara dan tamu-tamu lainnya makan mewah prasmanan, sementara rombongan anak yatim makan nasi bungkus. Walaupun dikatakan mereka juga senang dan puas kok karena bisa dapat bungkusan dan mungkin ada selipan angpao sebagai tanda terima kasih. Tapi kenapa harus dibedakan?

Artikel tersebut langsung ngelitikkin kegundahan saya tiap liat acara-acara seperti itu. Karena setiap ditanya kenapa harus ngundang anak yatim, pasti jawabannya ingin berbagi rezeki dan biar berkah. Doa anak yatim dianggap sebagai doa yang dijabah. Alasannya masuk akal. 

Kegundahan saya mungkin sangat subyektif sekali, seandainya anak-anak yatim adalah tamu yang paling mulia dan diharapkan membawa berkah dari doanya, kenapa untuk hal seperti makanan saja dibedakan. Mereka membawa berkah lho, idealnya harus dijamu dengan makanan paling mewah, mendapat perlakuan paling hormat, tempat duduk mereka juga jangan diasingkan di pojokan. Mereka sering kali didaulat untuk berdoa demi kesuksesan dan kebaikan kita, kita seakan butuh mereka sebagai perantara doa kita agar dikabulkan Tuhan. Apa kita sempat ingat untuk mendoakan balik anak-anak ini? Saya sendiri jadi malu, karna seingat saya, setiap datang ke acara seperti itu, saya lupa mendoakan balik mereka. Padahal belom tentu juga tamu-tamu lain yang dandan rapi dan tampak bagus di Instagram kita membawa kebaikan sebanyak anak-anak yatim tadi kan?

Saya nulis gini bukan untuk nge-judge siapa-siapa (ah masaa...), wong nyokap dan mertua sendiri juga hobi banget bikin kegiatan seperti ini, hahaha. Sebenernya saya risih banget kalo ada acara bagi-bagi trus mereka baris dan cium tangan. Gak kebalik nih? Kok kesannya saya minta dihargai karena sudah berbagi rezeki? Tapi hal-hal seperti ini kadang tidak terelakkan sih, pasti pembina panti langsung kasih instruksi "baris dan salim". Dalem hati ingin kabur ke hutan kemudian teriakku banget gak sih? (Enggaaa... -jawab yang lain)

Jadi inget peristiwa bagi-bagi sedekah atau zakat yang sampai memakan korban jiwa. Hati gremet banget tiap ada kejadian seperti itu, dilihat dari niatnya mungkin baik, tapi eksekusi tidak dipikirkan matang. Kalo bapak saya rada sepemikiran dengan saya, yang namanya menyumbang atau bersedekah baiknya kita yang mendata dan menghampiri, Jangan biarkan orang-orang yang punya kewajiban untuk bersedekah malah bikin orang yang udah susah jadi makin susah. Bukannya sudah jadi kewajiban orang yang mampu untuk meringankan beban saudaranya yang tidak mampu?

*benerin kudung*
*kudung saji*

Akhir kata, semoga amal ibadah kita semua di bulan Ramadan ini diterima Allah SWT. Aamiin.
*jempol drop*






3 comments:

  1. Saya membaca kisah Yardan dan sungguh memberi motivasi. Kebetulan diagnosa dokter terhadap anak saya juga sama. Jika berkenan, mungkin bu Gemma bersedia share kepada saya? Anak saya lahir September 2016 dan hingga sekarang masih di NICU.

    Terma Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa email ke gemmaletitia@gmail.com ya :)

      Delete
  2. Hallo Mbak, perkenalkan saya Adisty. Mbak... boleh nggak saya minta kontaknya? Ada yang mau saya tanyakan sedikit :) Jika berkenan, bisa tolong email ke saya, ya, Mbak... adisty@femaledaily.com Salam :)

    ReplyDelete